Berikut That’s Rockefeller, Band ‘Mitos’ yang Bermusik Tanpa Pretensi

Nama That’s Rockefeller mungkin asing di telinga pecinta musik yang tumbuh pada era 2000-an. Wajar saja, karena memang mereka jarang tampil dan bahkan jarang merilis karya. Pun jejak digital mereka sukar ditemukan.

Menengok ke belakang, That’s Rockefeller terbentuk di kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 2000 silam.

Aufa Aryaputra (vocal), Zalo Oramahi (bass), Juliansyah Ramadhan (gitar), Omar Aryaindra (drum) dan mendiang Hendra Saputra (kibor) sepakat membentuk band untuk mencari kesenangan. Bukan untuk untuk mencari uang.

“Kami terbentuk karena ingin berkontribusi. Di kampus banyak acara musik atau pameran, ya kami main,” kata Omar saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Butuh proses bagi That’s Rockefeller untuk menemukan formula musik yang mereka inginkan, terlebih setiap personel menggandrungi genre musik yang berbeda. Sehabis kuliah, mereka nongkrong sembari memainkan alat musik sampai mengarah pada genre rock.

Bukan sekadar rock yang kencang, bertempo cepat dengan distorsi gitar, namun pada lagu mereka terasa sedikit unsur lawas, seperti pada lagu Bebas Bertanggungjawab dan Busway. Itu menjadi salah satu karakter Thats’s Rockefeller, ditambah aksi energik Aufa saat manggung.

“Rock yang kami usung muncul secara kolektif karena jamming. Kami enggak bisa berdiri sendiri,” kata Aufa yang karib disapa Opai.

Baca Juga : Cara Menghisap Vapor

Selain dalam acara kampus, That’s Rockefeller juga berkontribusi dalam album kompilasi bertajuk Kampus 24 Jam Hits (2001) yang berisikan karya musisi IKJ. Mereka memilih lagu Dressed Like God untuk masuk album tersebut setelah ada dorongan dari pihak ketiga.

Kuliah tidak menghalangi That’s Rockefeller untuk tampil di berbagai acara musik. Mereka kerap tampil dalam acara musik yang diadakan Universitas Trisakti, Universitas Indonesia dan Universitas Jabaya.

Mereka juga sempat tampil pada acara musik yang diadakan di BB’s atau Bar Blues, salah satu kafe legendaris di Jakarta.

Seiring berjalannya waktu, karya mereka semakin banyak. Namun tidak semua karya itu direkam karena mereka memegang prinsip bahwa bermusik tidak harus merekam.

Mereka hanya merekam lima lagu, yaitu Muara Dosa, Murni Tanpa dicampur, Sweet Mary Jane, Well More To Morrissey dan Dressed Like God.

Meski sudah merekam sejumlah lagu, mereka justru tidak berencana tidak merilis karya tersebut.

Artikel Terkait : Cara Setting Ohm Vapor

Aquarius Musikindo disebut sempat terpikat pada lima lagu itu dan sempat menawarkan menjadi label mereka untuk dapat merilis album pada 2003.

Namun tawaran itu ditolak karena Aquarius Musikindo meminta That’s Rockefeller membuat satu lagi serupa dengan Sheila On 7.

“Gue bilang enggak bisa karena lagu kami ini. Mereka sempat telepon lagi, setuju dengan lima lagu itu. Kami bilang enggak usah, dan kami enggak rilis,” kaya Aufa.

Tak lama setelah itu That’s Rockefeller menghadapi masalah yang berujung pada perilisan mini album. Hendra meninggal pada tahun 2004 setelah pingsan di kelas saat kuliah.

Opai sempat membawa Hendra ke Rumah Sakit Cikini, namun ia tidak terselamatkan.

“Setelah Hendra pergi lebih dulu, kami rilis mini album sebagai penghormatan tahun 2004. Nama albumnya diambil dari nama panggilan dia, Vetrov,” kata Juliansyah.

Menurut Opai, nama tersebut datang terinspirasi dari tempat penyimpanan kibor milik Hendra yang memiliki tulisan “Petrov”. Awalnya, nama itulah yang jadi julukan bagi Hendra.

Namun Hendra suatu kali pernah diminta dipanggil dengan “Vetrov” dengan alasan lebih enak didengar dan kata ‘Petrov’ sulit dieja.

Usai kepergian sang kibordis, That’s Rockefeller tidak mencari pengganti Hendra karena mereka tidak ingin dan mereka yakin tidak ada yang mampu mengikuti gaya hidup band itu.

Musisi Yton yang kini menjadi kibordis Club Eighties sempat tampil bersama That’s Rockefeller. Menurut Aufa, Yton menyerah karena tidak mampu.

“Ya kami memang begini. Manajer juga banyak yang enggak mampu tanganin kami, udah berapa kali ganti. Manajer sekarang juga sebenarnya enggak [mengerti], tapi karena teman lama jadi paham,” kata Aufa.

Manajer Aswi menambahkan sembari menanggapi pernyataan Aufa, “Susah mengurus anak-anak ini. Malah jadi kayak gue yang mengikuti mereka, kebalik.”

Seiring berjalannya waktu, semua personel lulus kuliah dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Opai bekeja sebagai perekam suara film, Zalo bekerja sebagai desainer properti untuk film, Omar bekerja sebagai animator dan Juliansyah bekerja sebagai desainer di perusahaan minuman.

Meski sibuk, mereka masih menyempatkan waktu untuk bertemu. Sering kali bertemu, mereka tidak membahas atau memainkan musik, melainkan membahas berbagai hal sampai mengkaji kitab suci. Hal itu mereka lakukan karena merasa sudah seperti saudara.

Bagi mereka, yang penting adalah bertemu dan bersilaturahmi. Musik urusan nomor dua. Tapi mereka juga siap bila ada tawaran manggung meski jarang latihan. Mereka juga tidak peduli bila saat manggung main berantakan.

“Ya kami memang seperti ini, kalau mau terima, kalau enggak mau terima ya enggak apa-apa. Kami bermusik tanpa pretensi,” kata Opai.

That’s Rockefeller kemudian merilis album bertajuk Panca Dasa (2015) sebagai perayaan usia 15 tahun. Lagi-lagi, niat perilisan itu bukan datang dari keinginan band, melainkan dorongan pihak ketiga.

Hanya ada tiga lagu baru dalam Panca Dasa, yaitu Logistik, Hutan Dalam Laut dan Untuk Sementara. Lagu lain dalam album tersebut adalah lagu yang pernah mereka rilis dalam Vetrov.

“Sebenarnya lagu kami banyak mungkin ada sekitar 50. Tapi enggak direkam dan lupa, terus bikin lagi,” kata Juliansyah.

Walau memiliki karya yang bisa dibawakan secara langsung, That’s Rockefeller sangat jarang tampil dalam delapan tahun belakangan. Manajer Aswin mengatakan mereka paling banyak tampil sebanyak dua kali dalam setahun. Hal ini menjadikan mereka disebut band mitos.

That’s Rockefeller bukan satu-satunya band di Indonesia yang tergolong band mitos. Masih ada Teenage Death Star yang juga jarang tampil. Dengan begitu penampilan mereka selalu dinantikan penggemar.

“Kami manggung kalau semua personel bisa. Kami enggak pernah intimidasi satu sama lain untuk cari rezeki di mana. Kami sekarang main di Music at Newsroom karena bisa semua,” kata Opai.

Oktober lalu That’s Rockefeller tepat berusia 18 tahun. Mereka berencana merilis karya walau belum memastikan waktu perilisan. Berkaca pada perilisan sebelumnya, jangan terlalu berharap akan dirilis dalam waktu dekat.

Penampilan That’s Rockefeller dapat disaksikan lewat Music at Newsroom melalui situs CNNIndonesia.com hari ini, Rabu (21/11), pukul 14:00 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *