Inilah Budaya Antikorupsi Dibangun Sejak Pendidikan Usia Dini

Pemerintah akan bangun budaya antikorupsi semenjak pendidikan anak umur awal. Lewat program ‘Saya Anak Antikorupsi’ pemerintah ingin budaya antikorupsi dipelajari di sekolah.

Inspektur Jenderal Kemendikbud Muchlis Rantoni Luddin menjelaskan, Kemendikbud meluncurkan terdapatnya program ‘Saya Anak Antikorupsi’ (SAAK). Ia menjelaskan jika program ini untuk wujudkan budaya antikorupsi pada pelajar. Ia menuturkan jika program ini diawali semenjak pendidikan anak umur awal sampai pendidikan menengah.

“Mudah-mudahan program ini dapat berjalan dengan baik, serta anak-anak bersama semua masyarakat sekolah dapat pundak membahu dengan kami untuk mengawali berperan bangun budaya anti korupsi,” tuturnya saaat peluncuran SAAK di Jakarta, Jumat (14/12/2018).

Baca Juga : Harga Aquarium Ikan

Muchlis menuturkan, visi program SAAK ialah memberikan nilai antikorupsi pada generasi muda dengan sembilan nilai anti korupsi. Yaitu pada nilai kesederhanaan, kegigihan, keberanian, kerja sama, kedisiplinan, keadilan, kejujuran, bertanggungjawab, serta kepedulian.

Irjen menuturkan, misi yang lain adalah untuk menumbuhkembangkan rutinitas baik menjadi bentuk pendidikan ciri-ciri. Ia mengharap, bila budaya korupsi dapat tumbuh semenjak awal jadi generasi muda yang pintar, memiliki integritas serta berkarakter akan makin banyak terbentuk. “Kami mempunyai misi menguatkan ketakwaan generasi muda pada Tuhan serta pada tanah air,” tuturnya.

Irjen mengharap akan makin banyak agen anti korupsi yang tumbuh lewat program SAAK ini. Karena mereka diharap akan lakukan publikasi mencegah korupsi di lingkungan unit pendidikan, membuat budaya komune antikorupsi di lingkungan unit pendidikan, membuat komune antikorupsi di grup peserta didik, serta memberi dukungan pergerakan ‘Saya Anak Antikorupsi’ lewat pekerjaan ekstrakurikuler.

Irjen menuturkan, SAAK ini adalah sisi dari program Penguatan Pendidikan Ciri-ciri (PPK) yang digaungkan Kemendikbud. “Program ini ditujukan untuk bangun budaya antikorupsi. Kemendikbud bersama dengan KPK mulai memasyarakatkan dengan massal, terpenting dibantu oleh beberapa siswa, guru, serta tenaga kependidikan untuk bersama bangun budaya antikorupsi di unit pendidikan,” jelas.

Menjadi sinyal diluncurkannya program Saya Anak Antikorupsi, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Basaria Pandjaitan, didampingi Inspektur Jenderal Kemendikbud, Muchlis Rantoni Luddin, dan petinggi eselon II Inspektorat Jenderal serta Ditjen Pendidikan Basic serta Menengah Kemendikbud, menyisipkan selendang SAAK pada perwakilan siswa.

Artikel Terkait : Suara Kacer Betina untuk Pancingan

Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan mengharap beberapa siswa bisa jadi agen antikorupsi di sekolah semasing. “Harus dipegang selalu serta yang paling penting jadilah agen-agen pergantian dengan memprioritaskan antikorupsi”, pesan Basaria.

Basaria menjelaskan, budaya antikorupsi memang seharusnya dibuat semenjak awal hingga penduduk nanti dapat dengan gampang menampik penawaran korupsi. Ia menjelaskan, berdasar pada hasil riset jika tidak berlangsung korupsi di Indonesia jadi sekolah gratis dapat diaplikasikan di semua Indonesia sampai agunan kesehatan gratis juga bisa terwujud. Sayangnya, katanya, korupsi telah merambah dengan hebat ke semua sendi bangsa serta membuat Indonesia susah berkembang.

Basaria ingin gaung SAAK bukan sekedar di awalnya saja tetapi mesti dikerjakan dengan riil. Contoh mudah sikap anti korupsi ialah, kata Basaria, mulai belajar dengan baik hingga tidak mencontek. “Siswa yang ciri-khasnya baik ialah siswa yang mempunyai nilai anti korupsi di kehidupan,” terangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *